Jalan Keikhlasan Bu Mega

0
56

Oleh : Mixil Mina Munir

Kelompok bumi datar galau melihat Jalan tol sudah tersambung Merak-Jakarta-Surabaya-Pasuruan, 27 Bandara sudah diresmikan Jokowi, BBM sudah 1 harga, tol laut sudah kelihatan hasilnya, Jalan trans Papua semakin panjang, LRT di Palembang siap diluncurkan bulan Agustus 2018. Satu-satunya prestasi yang katanya bisa menyaingi kecemerlangan Jokowi hanya ide Wagub DKI Sandi Uno yang bisa merubah air tinja menjadi air mineral siap minum.

Setelah gagal menjegal elektabiltas Jokowi yang semakin moncer, kelompok bumi datar mencari sasaran tembak lain, pikirnya, kalau tidak bisa mendowngrade Jokowi, setidaknya mereka mengincar orang yang dibelakangnya.

kali ini peluru diarahkan ke Bu Mega. Gaji Megawati sebagai ketua dewan pengarah BPIP sebesar Rp 112 juta dipertanyakan. Padahal gaji itu lebih kecil dari ketua Mahkamah Agung dan ketua Mahkamah Konstitusi, masing-masing sebesar Rp 121 juta, jangan coba-coba dibandingkan dengan Dirut BRI sebesar Rp 165 juta.

Mereka menemui jalan buntu karena gaji pejabat negara merupakan keputusan yang menggaji, bukan yang digaji. Tepatnya keputusan bersama antara Mensesneg, Menkeu dan MenpanRB. Gaji ratusan juta itu sama sekali bukan keinginan Bu Mega, Kiyai Ma’ruf Amin, Prof Mahfud MD atau Buya Syafi’i Ma’arif.

Bahkan mereka semakin panik tatkala diketahui kalau Bu Mega bersama semua anggota dewan pengarah tidak tahu besaran gajinya bahkan tidak pernah mengambil gajinya sepersenpun sejak dilantik.

Bagi orang sesenior Bu Mega, seikhlas KH Ma’ruf Amin, sejujur Buya Syafii Ma’arif dan secerdas Prof Mahfud MD mengabdi kepada negara di akhir hidupnya jauh lebih penting dari sekedar gaji.

Kita yang seharusnya bersyukur, mereka masih mau mengurusi negara, menjadi penjaga ideologi bangsa, mencurahkan energi, pikiran dan hidupnya hanya untuk menjaga Pancasila. Ibu Megawati sudah tidak ingin menjadi presiden atau menteri apalagi hanya urusan Rp 112 juta.

Wallahu a’lam bissawab

SHARE
Previous articlePancasila Pemersatu Bangsa untuk Indonesia Raya
Next articleBung Karno tentang Bagaimana Menjumpai Tuhan
Rahmat Sahid | #wongkebumen
Rahmat Sahid lahir di Kebumen. Selepas lulus SD tahun 1994, ia melanjutkan sekolah di MTs KHR Ilyas, sekaligus ngaji di Ponpes Maqomul Muttaqin Tambakrejo, Buluspesantren, Kebumen, yang diasuh almarhum KH Raden Mabarun. Tahun 1997, tamat dari MTs, anak kedua dari Bapak M. Nasiruddin dan Ibu Tumirah ini meneruskan ke MA Salafiyah, Wonoyoso, Kebumen, hingga tahun 2000. Di tahun yang sama, ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, menimba ilmu di UIN Syarif Hidayatullah Ciputat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here