Bung Karno tentang Bagaimana Menjumpai Tuhan

0
114

Ada satu paradoks teringat di dalam pikiran Presiden Soekarno, soal siapa yang ingin bertemu kepada Tuhan. Untuk bertemu Tuhan, kata Bung Karno, bukanlah ia harus naik setingi-tingginya seperti Explorer atau seperti Sputnik, atau seperti perkakas-perkakas yang hendak mendarat di bulan, di bintang dan lain-lain. Kalau orang mau menjumpai Tuhan, bukan ia harus naik setinggi-tingginya, dia malahan harus turun, turun ke dalam hatinya.

Demikian dikatakan Bung Karno dalam pidato padaa peringatan Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW, di Jakarta, 16 Januari 1961.

“Ini paradoks yang besar, sebab Tuhan dikatakan di atas, dikatakan, menurut keyakinan saya -Tuhan itu bukan diatas saja. Tuhan itu di mana-mana, tapi satu, Esa. Tapi, dimana-mana,” kata Bung Karno.

Kalau kita hendak menjumpai Tuhan, menurut Bung Karno, meskipun memakai penjelajah, meskipun memakai satelit, bahkan meskipun memakai alat perkasa apa pun yang bisa sampai mendarat di bintang-bintangnya Bima Sakti, tetapi kalau tidak turun di dalam hati, maka tidak akan berjumpa dengan Allah SWT.

“Profesor botak yang membikin perkakas atau insinyur botak yang membikin perkakas yang membawa manusia ke bulan, belum tentu dia berjumpa kepada Tuhan; tetapi ambillah orang yang hina-hina, kadang-kadang dia berjumpa dengan Tuhan meskipun dengan, tidak dengan dia punya panca indera,” ungkap Bung Karno.

Bung Karno lantas menceritakan salah satu cerita sahih, pada saat Nabi Muhammad berjalan-jalan dengan sahabat-sahabat, kemudian datang kepada satu sumur. Saat itu, matahari amat terik. Kemudian Nabi melihat seorang wanita, miskin, gembel, yang sedang mengambil air dari sumur itu. Di saat sama, ada anjing kurus kering, lidahnya melet-melet, mendekati sumur itu, tetapi ternyata airnya dalam. Lalu wanita yang miskin dan gembel itu mengambil air, dan memberikan minum kepada anjing ini. Nabi lalu berkata, “wanita ini nanti masuk surga”. Sahabat lalu bertanya, “Apa sebab ya Nabi, ya Rasul, wanita ini masuk surga? Kata Nabi, “wanita ini menjalankan satu ibadat yang amat besar sekali.”

Dari cerita itu, Bung Karno memaknai bahwa ibadat artinya penyembahan kepada Tuhan. Dan dari cerita itu, Bung Karno berkeyakinan bahwa sebetulnya wanita tersebut melihat Tuhan dengan batin dan roh-nya. Makna lain dari cerita itu, kata Bung karno, bahwa ibadat kepada Tuhan bukan saja yang berupa sembahyang saja, tidak. Sederhananya, kalau seseorang sedang berjalan-jalan dan di jalan itu ada pecahan gelas yang jika diinjak oleh orang lain, kakinya akan luka dan keluar darahnya, maka ambil pecahan gelas itu, sehingga orang-orang yang berlalu lintas selamat. Itu juga menjalankan satu ibadah. Kalau menolong orang yang rumahnya sedang kebakaran, itu juga ibadah, kalau bekerja keras untuk tanah air dan bangsa, itu juga ibadah.

Dalam kesempatan itu Bung Karno juga menyampaikan tulisan di buku karya Leo Tolstoi yang menceritakan Iwan de Dwaas. Yakni orang yang miskin sekali, sendiri, dan dalam kondisi lapar. Lalu ada orang miskin lain di depan rumahnya. Dia panggil; Saudara masuklah, ini lho, saya mempunyai roti, makanlah roti ini, ini lho saya mempunyai seteguk, minumlah ini.

Tolstoi bertanya kepada orang miskin ini, “Saudara memberikan apa? Kenapa saudara memberikan saudara punya roti kepada si orang miskin yang lain itu? Kenapa saudara punya air saudara berikan kepada orang yang lain itu? “Apa jawaban dia? Dia berkata, “Aku merasa seperti telah memberi makan kepada Isa”.

Dari cerita itu, Bung Karno menangkap makna yang sangat besar, yakni meskipun ia miskin dan lapar, tetapi dengan memberikan roti dan air kepada si miskin lain seolah-olah ia berjumpa dengan Isa. Lebih tinggi dari pada itu, seolah-olah ia berjuma dengan Tuhan sendiri.

“Dus, orang yang hendak bertemu dengan Tuhan jangan mengira bahwa ia dengan Explorer (penjelajah), dengan Sputnik (satelit), dengan perkakas apa pun yang sampai bisa mendarat di bintang-bintangnya Bima Sakti, bisa berjumpa dengan Tuhan. Tetapi jikalau hendak berjumpa dengan Tuhan turunlah ke dalam kita punya hati,” ungkap Bung Karno.

_Artiket ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid yang sedang dalam proses terbit._

#Pancasila1Juni
#HariLahirPancasila1Juni
#JuniBulanBungKarno

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here