Bung Karno Mencari Tuhan

0
288

Presiden Soekarno tumbuh sebagai pemeluk agama Islam yang progres dalam memahami dan memaknai ajaran-ajarannya. Hal itu tidak terlepas dari jiwa kritis Soekarno sejak muda, termasuk dalam upayanya mengenal dan mempercayai Tuhan Yang Maha Esa. Hingga menjadi Presiden pun, Bung karno begitu akrab dengan diskursus mengenai masalah tauhid, masalah ketuhanan. Bahkan, Bung Karno ketika sudah menjadi Presiden masih dengan gaya khasnya dalam berbicara mengenai Tuhan.

Seperti halnya ketika menyampaikan pidato pada acara peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara, 12 Februari 1963, Bung karno mengajak kepada hadirin sekalian soal bagaimana selama ini dalam mengenali Tuhan.

“Saudara-saudara sekalian pernah bertanya kepada dirimu sendiri? Tuhan, Tuhanmu dimana? Tuhan dikatakan Esa, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Tunggal, Tuhan Yang Satu. Dimanakah engkau? Bagaimanakah rupa-Mu ya Allah, ya Rabbi?,” ungkap Bung Karno

Pertanyaan yang demikian itu, kata Bung Karno, sering timbul dipikirannya tatkala masih muda. Bung Karno kemudian menceritakan pengalaman spiritualnya saat masih muda. Dibukanya berbagai buku dan kitab untuk mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut. Dibaca juga berbagai pemahaman tentang Tuhan dari berbagai agama, termasuk bagaimana pemahaman soal dewa-dewa. Namun, Bung Karno tetap belum menemukan jawaban yang begitu meyakinkan di jiwanya.

“Ya Tuhan, bagaimanakah rupa-Mu? Ya Tuhan, dimanakah tempat-Mu? Sudah jelas orang katakan kepadaku, bahwa engkau hanyalah satu, Esa. Tetapi dimana tempat-Mu. Bagaimana rupa-Mu itu? Itu yang aku ingin ketahui,” demikian Bung Karno, masih menceritakan bagaimana pengalaman mudanya dalam mencari Tuhan.

Bung Karno kemudian melanjutkan cerita tatkala ia berumur 28 tahun. Dalam upaya mencari jawaban-jawaban atas pertanyaannya sendiri itu tentang Tuhan, Bung Karno lalu membuka Al Qur’an.

“Nah disini aku mulai cerita tentang Qur’an saudara-saudara. Bukan lagi kitab-kitab sosiologi yang aku buka. Bukan lagi kitab-kitab sejarah yang aku buka di dalam aku punya search. Search yaitu mencari jawaban tentang bagaimana Tuhan, dimana Tuhan, bagaimana rupa Tuhan aku membuka kitab suci Al-Qur’an di dalam segala ia punya terjemahan. Terjemahan bahasa Belanda, terjemahan bahasa Prancis, terjemahan bahasa Jerman, terjemahan bahasa Inggris,” terangnya.

Bung Karno pun menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya sendiri itu. Tuhan gaib?, yes, gaib, karena tidak bisa dilihat. Tetapi, kata Bung karno, Tuhan bukan satu persoon, yang bersinggasana di langit ke-7.

“Tuhan adalah satu zat yang meliputi seluruh alam ini, meliputi seluruh alam, bukan hanya disana, dimana-mana, tetapi Esa, Tuhan ada di puncak gunung, yes. Tuhan ada di langit, di balik sana dari pada awan, yes. Tuhan ada di balik bintang-bintang yang aku lihat tadi malam itu, yes, Tuhan ada di dalam dasarnya laut, yes. Tuhan ada disana, sebelah sana dari pada Eropa, yes. Tuhan ada disana, disebelah sana dari pada bintang Venus, yes. Tuhan ada di dalam lingkarannya bintang Saturnus, yes. Tuhan ada di dalam bintang Bima Sakti, yes,” ungkapnya.

Jadi, kata Bung karno, dimana-mana ada Tuhan, tetapi Tuhan tetap satu. Bukan satu barang yang terpencar-pencar, dalam arti sebagian di bintang Venus sebagian di matahari, sebagian di bulan, tidak!

“Tetapi, Tuhan adalah satu zat maha zat yang dimana-mana, juga di hadapanku, juga dihadapanmu saudara-saudara, juga di belakanganmu, juga diatasmu, tetapi satu, Esa. Inilah jawaban yang aku dapat dari Qur’an. Tentang Tuhan, Tuhan Yang Maha Esa,” jelas Bung Karno.

Karenanya, kata Bung karno, jikalau seseorang benar-benar hendak mencari Tuhan, secara bacaannya, bacalah di dalam Qur’an. Tetapi jangan hanya membaca saja, tetapi harus dicamkan di dalam jiwa. Sebab hanya dengan mencamkan di dalam jiwa, maka akan dapat menemukan Tuhan.

“Inilah pelajaran bagi saya dapat dari Qur’an saudara-saudara, tatkala umur 28 tahun. Maka oleh karena itu jikalau pada malam Nuzulul Qur’an ini mengagungkan Qur’an, mengagungkan Nuzululnya, saya pun saudara-saudara, ikut mengagungkan Qur’an bukan sekadar secara formal, tetapi dengan benar-benar sedalam-dalam aku punya hati,” tegasnya.

Terkait dengan proses pencarian Tuhan oleh Bung Karno juga banyak diceritakan dalam buku biografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams. Terutama sekali sejak mulai bergaul di “pemondokan” di Surabaya, di tempat HOS Tjokroaminoto, dimana Bung Karno yang saat itu berusia 14 tahun diterima sekolah di HSB Surabaya. Kemudian, pendalaman mengenai Islam diperkuat lagi saat melanjutkan sekolahnya di ITB, Bandung. Di situlah, Bung Karno dengan pikiran-pikiran kritisnya mulai berdiskusi langsung dengan tokoh islam kala itu, termasuk KH Agus Salim dan A Hasan.

Seperti diceritakan sahabat setia Soekarno, Haji Ahmad Notosoetardjo dalam bukunya: Bung Karno Mencari dan Menemukan Tuhan, “Telah sering kuuraikan bahwa manusia Soekarno itu tidak pernah mendapat isi dan didikan Islam dari ayah-ibunya, tidak juga secara khusus dari kiai dan ustadz. Jiwanya sendiri yang mencari Tuhan dan akhirnya menemukan-Nya; jiwanya sendiri merentak mendekati Muhammad, Rasul Allah, sehingga menjadi pengikutnya. Ia pun mengaku, tadinya tidak mengenal agama, pun tidak mengenal Tuhan, tapi kemudian ia mencari dan mencari-Nya sampai berjumpa”.

Masih menurut cerita AN Notosoetardjo dalam bukunya, dalam hal keyakinannya soal Tuhan, suatu ketika di Bandung Bung Karno mendatangi KH Agus Salim yang kebetulan sedang berkunjung ke Bandung. Ia mengajak pertukaran pemikiran mengenai masalah pergerakan dan politik, dan akhirnya soal ketuhanan. Bung Karno tidak puas. Ia berkata, “Saya belum tahu benar arti Allah, tetapi saya merasa kepastian adanya Allah,” lalu pulang.

Kesan Agus Salim, “Sungguh keras kepala anak muda itu, mudah-mudahan Allah menyadarkan pikirannya,”.

Dalam perjalanannya, pengembaraan bathin Bung Karno, soal Islam, dan juga soal Tuhan, semakin kuat, saat berada di tahanan Sukamiskin Bandung, kemudian masa pembuangan di Ende, Nusa Tenggara Timur, dan pada masa pembuangan ke Bengkulu, serta pada masa pembuangan di agresi Belanda yang kedua yakni di Brastagi.

Saat di Brastagi misalnya, ketika Bung Karno mendengarkan informasi akan ditembak mati keesokan harinya oleh tentara Belanda.

Waktu itu, sebagaimana diceritakan dalam buku ‘Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia’ yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno dihinggapi oleh perasaan takut yang tak pernah dirasakan seumur hidupnya. Keringat dingin memercik keluar. Ada suatu kekuatan dalam diri orang Indonesia yang menjebabkan dia tabah dan iman dalam menghadapi ujian. Sebagian besar dari orang Belanda dalam kamp-tawanan Jepang menjadi gila. Orang Indonesia tidak.

“Mereka dapat menahankannya, oleh karena percaya bahwa di suatu hari ……… bagaimanapun …….. insya Allah ……… Mengenai diriku begitu pula halnya. Aku berdoá , “Tuhan Yang Maha-Penyayang, aku menyerah pada kemauan-Mu. Berilah aku petunjuk. Tunjukkanlah bahwa Engkau berada disampingku.”

“Kuambil Kitab Al-Qurán, mendekapkannya dengan keras ke dadaku, lalu berbisik pada diriku “Tak soal halaman berapa buku suci ini akan terbuka. Aku akan memperoleh petundjuk dari kalimat pertama dihalaman sebelah kiri.” Dengan tangan jang gemetar kubuka kitab ketjil jang berwarna hidjau itu setjara untung-untungan. Kubatjalah kalimat jang paling atas dihalaman sebelah kiri jang berbunji, “Djanganlah pertjaja pada apa jang keluar dari mulut manusia. Hanya Tuhan Jang Maha-Kuasalah jang mengetahui nasib daripada ummat-Nja,” demikian diceritakan Bung Karno.

Benar, Bung Karno memang akhirnya menjadi sosok yang matang dalam hal keagamaan, dalam hal mempercayai Tuhan, juga dalam hal bagaimana kekagumannya pada Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana selalu diungkapkan dalam pidato-pidatonya, yang selalu memanjatkan doa kepada Tuhan, dan juga selalu menjadikan sosok Nabi Muhammad sebagai rujukan dalam spirit perjuangannya.

_Artiket ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid yang sedang dalam proses terbit._

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here