Maulid Nabi, Masjid Istiqlal, Dan Bung Karno

0
136

Inilah salah satu masjid kebanggaan Umat Islam di Indonesia. Di tengah keterbatasan anggaran dana pemerintah saat itu, Bung Karno tetap bersemangat untuk membangun masjid megah ini. Masjid yang kemudian diberi nama Istiqlal (kemerdekaan) tidak hanya dibangun megah, namun Bung Karno juga ingin bangunannya kuat dan bisa bertahan beberapa abad lamanya.

Bung Karno tidak hanya membangun fisiknya, namun juga terlibat dalam meletakkan nilai-nilai filosofisnya. Ia juga terlibat dalam menentukan lokasi masjid ini.

Pada awalnya, masjid ini diusulkan untuk didirikan di daerah Thamrin Jakarta Pusat. Maklum, saat itu Thamrin termasuk kawasan permukiman yang dinilai cocok untuk menjadi tempat berdirinya suatu masjid yang besar.

Namun, Bung Karno memilih membangunnya di lokasi yang saat itu masih berdiri taman Wilhelmina, di lokasi bekas benteng Belanda Frederick Hendrik yang dibangun Gubernur Jenderal Van Den Bosch pada tahun 1834. Uniknya, lokasi ini berdampingan dengan Gereja Katedral, rumah ibadah Umat Katolik. Sehingga Istiqlal dan Katedral bisa menjadi salah satu simbol toleransi.

Pemancangan tiang pertama masjid ini kemudian dilakukan oleh Bung Karno pada 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam buku Mengenal Istiqlal yang diterbitkan Badan Pelaksana Pengelolaan Masjid Istiqlal dijelaskan, setelah perang kemerdekaan Indonesia berakhir, muncul sebuah gagasan untuk mendirikan sebuah masjid nasional. Gagasan tersebut sekaligus sebagai ungkapan syukur atas hasil perjuangan yang dicapai. Selain gagasan membangun masjid, muncul pula keinginan untuk membangun bangunan monumental layaknya Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang menjadi bukti kemegahan suatu peradaban.

Untuk mewujudkan gagasan itu, pada tahun 1950, Wahid Hasyim yang menjabat Menteri Agama mulai mengadakan pertemuan dengan tokoh Islam di Deca Park, bangunan di utara Monumen Nasional yang kini sudah tidak ada. Kemudian, pada 7 Desember 1954, disepakati rencana pembangunan Masjid Istiqlal. Anwar Tjokroaminoto dari Partai Syarikat Islam ditunjuk sebagai ketua Yayasan Masjid Istiqlal. Kemudian panitia melaporkan rencana pembangunan itu kepada Presiden Soekarno, yang kemudian menyetujui. Bahkan, Presiden Soekarno kemudian semakin terlibat aktif saat ditunjuk sebagai ketua dewan juri untuk menentukan rancangan Istiqlal. Bahkan, Soekarno memimpin pembangunan Masjid Istiqlal pada 1966. Berdasarkan Surat Keputusan Nomor 78/1966, Soekarno mulai memimpin kepanitiaan. Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Adam Malik dan Jenderal AH Nasution tercatat sebagai wakilnya.

Sementara itu dari sisi arsitek, dipililah Frederich Silaban, seorang arsitek beragama Kristen Protestan. Frederich dipilih melalui sebuah sayembara yang tim jurinya dipimpin sendiri oleh Bung karno yang juga seorang arsitek. Frederich mampu meyakinkan para juri sehingga karyanya yang dipilih sekaligus ia mendapapatkan medali emas seberat 75 gram dan uang tunai Rp 25.000.

Sejak awal, Bung Karno ingin masjid ini kokoh hingga berusia ribuan tahun. Makanya ia tidak memilih bahan berunsur utama kayu dan lebih memiih berbahan stainless, marmer dan keramik. Berkat bahan-bahan berkualitas itu, Istiqlal kini tetap berdiri megah dan kokoh.

Presiden Soekarno dalam pidatonya saat memberikan amanat di hadapan alim ulama dan Panitia Masjid Istiqlal di Istana Negara, Jakarta, 18 Juli 1966, mengatakan, dirinya ingin bersama-sama dengan umat Islam di sini mendirikan masjid jami lebih besar daripada Masjid Muhammad Ali, lebih besar daripada Masjid Salim.

“Lebih besar. Apa sebab? Lho wong punya negara besar kok, ingin saya membangun bersama-sama dengan semua rakyat, membangun satu bangsa Indonesia betul-betul menjadi syiar agama Islam. Nah, kita selalu kagum, kagum. Waduh, kalau datang di Kairo Saudara-saudara. Dari kota pergi ke Mokatam, kiri jalan di situ ada masjid di atas bukit, Masya ke Allah hebatnya! Apa sebab kita tidak mendirikan masjid yang lebih besar dan indah daripada ini?,” ungkap Bung Karno.

Karena itulah, ia ingin membangun Masiid Istiqlal yang lebih hebat, lebih besar, lebih megah daripada itu. Bung Karno mengakui bahwa untuk membangun itu tidak bisa selesai dalam satu dua tahun, apalagi satu dua bulan karena saking besarnya, saking megahnya, saking indahnya.

Sementara itu dari sisi nama, Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang berarti merdeka. Masjid ini dibangun untuk menghormati para pejuang muslim yang gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan sekaligus menggambarkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

_Artikel ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid._

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here