H.O.S Tjokroaminoto, Guru, Bapak Kos, Sekaligus Mertua

0
131

Hubungan Bung karno dan Haji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto cukup kompleks. Ia adalah guru, ‘bapak kos’, dan juga sekaligus mertua. Jauh sebelum Indonesia merdeka, Tjokroaminoto sudah dikenal sebagai pelopor kemerdekaan dan aktivis Islam dan merupakan pendiri organisasi Sarekat Islam.

Dapat dikatakan bahwa ia merupakan tokoh yang mempunyai andil sangat besar dalam kehidupan Bung Karno. Ia adalah tokoh pertama yang berpengaruh bagi Bung Karno karena sejak remaja dititipkan di keluarga HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh, Surabaya.

Bung Karno yang ketika datang ke Surabaya berusia 14 tahun sering membuntuti Tjokroaminoto yang ketika itu berusia 30-an tahun berkeliling dari satu daerah ke daerah lain, menjadi guru ngaji, tetapi juga menyelipkan pesan-pesan perjuangan, tebaran-tebaran semangat untuk merdeka, lepas dari penindasan bangsa Belanda. Sebagaimana diceritakan Bung Karno dalam “Bung Karno-Penjambung Lidah Rakjat Indonesia” yang ditulis Cindy Adams, Pak Tjokro berusia 33 tahun ketika Bung karno datang ke Surabaya, dan kemudian Pak Tjokro lah yang mengajari Bung karno berbagai hal. Karenanya, tidak berlebihan ketika Bung Karno secara terus terang mengatakan bahwa Tjokroaminoto adalah guru sekaligus pujaannya.

“Terutama sekali Tjokroaminoto termasuk salah seorang guru yang amat saya hormati. Kepribadiannya menarik saya, dan Islamismenya menarik saya pula karena tidak sempit,” tutur Bung Karno.

“Aku muridnya, secara sadar atau tidak sadar, ia menggemblengku. Aku duduk dekat kakinya, dan diberikannya kepadaku buku-bukunya, diberikannya kepadaku miliknya yang paling berharga,” kata Bung Karno.

Tidak hanya menjadi murid, Bung Karno juga adalah menantu Tjokroaminoto karena menikahi Oetari pada 1921. Saat itu, Soekarno berusia 20 tahun, sedangkan Oetari 16 tahun. Namun rumah tangga mereka tak berlangsung lama.

Dari Tjokroaminoto, ia banyak belajar hal, termasuk tentang nilai-nilai keislaman yang progresif. Tak terbantahkan lagi jika Tjokroaminoto adalah tokoh Islam yang tak hanya menekankan perlunya ibadah, namun juga kewajiban beramal nyata bagi masyarakat. Dan Bung Karno banyak belajar tentang hal itu.

_Artikel ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid._

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here