Panjangnya Relasi Hubungan Bung Karno dan NU (2)

0
214

NU dikenal mempunyai banyak kyai yang kharismatik dan mempunyai keilmuan yang sangat tinggi. Tidak heran jika Bung Karno mengaku menjadi sangat nyaman di ‘pelukan’ para kyai. Ia menemukan teman sejati dalam perjuangan. Teman yang tidak mengharapkan yang ada dalam suka dan duka. Bahkan rela menjadi tameng atau bengteng bagi berbagai kebijakan Bung Karno yang kadang ditetang oleh kelompok Islam yang lain.

Bahkan dalam sejarah ada tokoh NU yang rela menjadi benteng hidup saat Bung Karno diserang oleh musuh politiknya, ia adalah KH Zainul Arifin. Ulama kelahiran Barus Tapanuli Tengah yang pernah menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (1960 – 1963), dan Wakil Perdana Menteri (1953 –1955) ini meninggal setelah ada tragedy Shalat Idul Adha di tahun 1962. Saat itu ada teroris yang menembak ke Bung Karno, namun Kyai Zainul ini menjadi perisai hidup, sehinga peluru mengenai badannya.

Sebagaimana diceritakan dalam buku ‘KH. Zainul Arifin : Panglima Santri, Ikhlas Membangun Negeri’, yang ditulis Ario Helmy dan diterbitkan Pustaka Compass (2015), disebutkan bahwa Kyai Zainul juga pernah mendampingi Soekarno melakukan kunjungan-kunjungan kenegaraan bersejarah sepanjang tahun 1956. Salah satunya adalah ketika berkunjung ke Uni Soviet, dimana Indonesia lewat upaya diplomasi tingkat tinggi berhasil membuat pemerintah komunis di Moskow membuka kembali sebuah masjid yang kiji dikenal dengan Masjid Biru sering kali diulas sebagai Masjid Soekarno.

Tidak dapat dielakkan bahwa NU adalah salah satu organisasi yang menyokong Bung Karno dalam mewujudkan cita-citanya untuk Indonesia Merdeka dan meletakkan dasar-dasar negara ini yang kokoh.

Dan sejarah mencatat, Presiden Soekarno pada tahun 1954 diangkat sebagai Waliyy Al-Amr Al-Daruri Bi Al-Syaukah oleh NU.

Desri Juliandri, Maskun dan Syaiful M, dalam tulisannya: Tinjauan Historis Pengangkatan Soekarno sebagai Waliyy Al-amr Aldaruri Bi Al-syaukah oleh NU (FIKIP Unila) mengungkapkan, pemberian atau pengangkatan gelar itu tidak lepas atau tidak bisa dipisahkan dari rangkaian Konferensi Alim Ulama pertama pada tanggal 12-13 Mei 1952 di Tugu, konferensi kedua dilakukan Menteri Agama dengan para Alim Ulama pada tanggal 4-5 Mei 1953 di Bogor dan dipertegas kembali pada tanggal 3-6 Maret 1954 di Cipanas. Tujuan pengangkatan Presiden Soekarno adalah agar rakyat Indonesia terutama umat Islam wajib mentaati perintahnya sesuai syariat Islam.

“Proses pengangkatan Soekarno sebagai Waliyyul Amri Ad-Dharuri bi As-Syaukah oleh NU adalah proses yang panjang dan dan tidak mudah. Berawal pada muktamarnya NU ke-15 yang diselenggarakan bulan Juni 1942 (muktamar terakhir masa kolonial Belanda) dan semakin menguat setelah ditetapkannya kebijakan Menteri Agama tentang tauliyah wali hakim bagi wanita yang tidak memiliki walih nikah untuk daerah-daerah di luar pulau Jawa dan Madura pada tahun 1952.”

“Selanjutnya dikuatkan oleh Konferensi Alim Ulama pertama pada tanggal 12-13 Mei 1952 di Tugu, konferensi kedua dilakukan Menteri Agama dengan para Alim Ulama pada tanggal 4-5 Mei 1953 di Bogor dan dipertegas kembali pada tanggal 3-6 Maret 1954 di Cipanas, Bogor konferensi ketiga. Ke putusan ini dikuatkan lagi oleh musyawarah dekan-dekan IAIN di bawah pimpinan Prof. R.H.A. Soenarjo (tokoh NU) di Purwokerto pada 6-7 Oktober 1962. Tujuan NU memberikan gelar Soekarno sebagai Waliyyul Amri Ad-Dharuri bi As-Syaukah adalah untuk mengakhiri dualisme kepemimpinan nasional antara Kartosuwiryo yang mengaku dirinya sebagai imam umat Islam dengan gerakan DI/TII-nya dan Presiden Soekarno pada pihak lain.”

_Artikel ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid._

SHARE
Previous articlePanjangnya Relasi Hubungan Bung Karno dan NU
Next articleAbdul Karim Oey dan Perkenalan di Kota Kembang
Rahmat Sahid | #wongkebumen
Rahmat Sahid lahir di Kebumen. Selepas lulus SD tahun 1994, ia melanjutkan sekolah di MTs KHR Ilyas, sekaligus ngaji di Ponpes Maqomul Muttaqin Tambakrejo, Buluspesantren, Kebumen, yang diasuh almarhum KH Raden Mabarun. Tahun 1997, tamat dari MTs, anak kedua dari Bapak M. Nasiruddin dan Ibu Tumirah ini meneruskan ke MA Salafiyah, Wonoyoso, Kebumen, hingga tahun 2000. Di tahun yang sama, ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, menimba ilmu di UIN Syarif Hidayatullah Ciputat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here