Renovasi Kabah dan Jalur Sa’i

0
138

Ibadah Haji dan Muhibah yang dilakukan Presiden Soekarno dan rombongan pada tahun 1955 lalu menjadi momentum yang sangat bersejarah. Bukan saja karena bertepatan dengan Haji Akbar dimana puncak pelaksanaan ibadah pada hari Arafah 9 Dzulhijjah jatuh pada hari Jumat, tetapi juga karena perjalanan dilangsungkan tidak lama setelah berlangsungnya Konferensi Asia Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila Bandung. Yakni konferensi negara-negara baru merdeka Asia-Afrika yang dilangsungkan ditengah-tengah berlangsungnya Perang Dingin antara kubu Amerika Serikat dan kubu Uni Soviet.

Dalam buku Biografi KH Zainul Arifin: Berdzikir Menyiasati Angin, yang ditulis Ario Helmy diuraikan bagaimana di Arab Saudi rombongan kenegaraan diterima oleh Raja Saud bin Abdul Aziz, raja kedua Saudi yang merupakan putra pendiri kerajaan Raja Abdul Aziz bin Saud yang wafat dua tahun berselang. Dijelaskan pula bahwa Raja Saud menemani sendiri rombongan Presiden melaksanakan ibadah haji sesuai dengan tradisi kerajaan.

Disebutkan pula bahwa ketika melaksanakan ibadah Sa’i, lari-lari kecil antara bukit Marwah dan Safa, Sokarno sempat memberikan usulan agar kawasan ibadah diperbaiki dan dibersihkan dari para pedagang yang kala itu masih berbaur dengan jamaah yang sedang beribadah.

Saat itu, jalur sa’i yaitu berjalan kaki (berlari-lari kecil) bolak-balik sebanyak tujuh kali dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah dan sebaliknya, yang jauhnya 405 meter itu dalam keadaan tidak teratur. Karena kepdatan jamaah yang lalu lalang melakukan sa’i, baik perempuan maupun laki-laki, tua maupun muda, bahkan yang sakit dan menggunakan kursi roda, tidak jarang-jarang terjadi tabrakan dan penumpukan jamaah di titik-titik tertentu. Melihat kondisi yang seperti itu, Bung Karno mengusulkan untuk dilakukan renovasi penataan bangunan jalur sa’i, sehingga meskipun arus padat manusia berbolak-balik tetap tidak akan berbenturan. Dalam usulan Bung Karno, dilakukan penataan agar arus ke Shafa dan arus ke Marwah dalam dua jalur berlawanan, kemudian di tengah dibuat jalur khusus kaum difabel dan renta yang menggunakan kursi roda.

Meutia Farida Swasono, anak pertama Bung Hatta dalam bukunya Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan, menceritakan, sebenarnya usulan mengenai penataan jalur sa’i juga sudah disampaikan Hatta ketika menunaikan ibadah haji pada tahun 1952. Saat itu, Bung Hatta melihat orang yang akan melakukan sa’i sangat banyak, sementara orang-orang yang berjalan kaki dari arah bukit Shafa ke bukit Marwa sering bertubrukan. Saat itu juga, kata Meutia, Bung Hatta mengusulkan agar dilakukan penataan kawasan di sekitar kabah karena banyak toko-toko dagangan yang berada di sekitar Masjidil Haram, dan dirasakan menganggu konsentrasi orang-orang yang sedang menjalankan ibadah.

_Artikel ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid._

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here