Renovasi Kabah dan Jalur Sa’i (2)

0
103

Meutia Farida Swasono, anak pertama Bung Hatta dalam bukunya Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan, menceritakan, sebenarnya usulan mengenai penataan jalur sa’i juga sudah disampaikan Hatta ketika menunaikan ibadah haji pada tahun 1952. Saat itu, Bung Hatta melihat orang yang akan melakukan sa’i sangat banyak, sementara orang-orang yang berjalan kaki dari arah bukit Shafa ke bukit Marwa sering bertubrukan. Saat itu juga, kata Meutia, Bung Hatta mengusulkan agar dilakukan penataan kawasan di sekitar kabah karena banyak toko-toko dagangan yang berada di sekitar Masjidil Haram, dan dirasakan menganggu konsentrasi orang-orang yang sedang menjalankan ibadah.
Usulan itu kemudian diperkuat saat Presiden Soekarno menunaikan ibadah haji pada tahun 1955.

“Saat itu, Bung Karno mengusulkan kepada pemerintah Arab Saudi agar memperbesar Masjidil Haram. Sebagai seorang insinyur, Bung Karno melihat, bangunan Masjidil Haram masih bisa diperbesar dan menampung lebih banyak jamaah haji yang datang,” terangnya.

Dan seperti diketahui, usulan Bung Karno itu kemudian direalisasikan oleh Pemerintah Arab Saudi yang kala itu dipimpin oleh Raja Khalid Bin Abdul Aziz ketika Masjidil Haram secara besar-besaran direnovasi pada tahun 1966. Terkait dengan jalur sa’i, awalnya dibuat dua jalur kanan-kiri untuk flow dan contra flow, dan bagian tengah sebagai pemisah dibuat jalur khsusu untuk kursi roda. Kemudian pada pembangunan berikutnya baru disusun dua lantai saat kepadatan jamaah tidak tertampung di lantai dasar.

Eko Budihardjo, Ketua Dewan Pembina Persatuan Sarjana Arsitektur Indonesia dan Ketua Kehormatan Ikatan Arsitek Indonesia Cabang Jawa Tengah, dalam tulisannya di Kompas, 1 Juni 2001, dengan judul Bung Karno, Arsitek-seniman menceritakan,.

“Ketika saya menunaikan ibadah haji pada tahun 1996, saya memperoleh informasi bahwa bangunan dua lantai tempat para jemaah haji melakukan sai (berjalan dan berlari dari bukit Safa ke Bukit Marwah pulang-pergi) dibangun atas saran Bung Karno. Semula bangunannya tidak bertingkat. Begitu jemaahnya setiap tahun bertambah, semakin berjubel padat, akibatnya sangat menyulitkan dan menyengsarakan bagi para jemaah. Usulan Bung Karno sebagai seorang insinyur sipil sungguh sangat tepat untuk mengatasi kesumpekan itu,” demikian tulis Eko Budihardjo.

_Artikel ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid._

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here