Bung Karno, Muhammadiyah, dan Kemerdekaan Indonesia

0
115

Bung Karno, Muhammadiyah, dan Kemerdekaan Indonesia adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan. Ketiganya mempunyai hubungan sejarah berkaitan yang saling mempengaruhi. Sumbangan Muhammadiyah sangat besar bagi mewujudkan kemerdekaan Indonesia, begitu juga sumbangannya pada pemikiran Bung Karno

Sebagai organisasi Islam besar tertua di Indonesia, Muhammadiyah melahirkan banyak pejuang bagi bangsa ini. Salah satunya adalah Bung Karno yang tak hanya belajar dari Muhammadiyah, namun tokoh-tokoh besar yang dimiliki organisasi itu. Saat masih di Surabaya misalnya, Bung Karno sudah dekat dengan HOS Tjokroaminoto dan KH Mas Mansyur, yang keduanya adalah tokoh Muhammadiyah.

Bung Karno misalnya juga dekat Abdul Karim Oei Tjeng Hien, KH Agus Salim, Haji Abdul Karim Amrullah (Hamka), khususnya di masa pengasingan di Bengkulu. Bahkan di Bengkulu inilah Bung Karno semakin dekat dengan Muhammadiyah sebagai organisasi.

Kekaguman Bung Karno terhadap KH Ahmad Dahlan ditambah kedekatannya dengan berbagai tokoh Muhammadiyah, plus berinteraksi dengan kegiatan organisasi membuat Bung Karno tidak ragu untuk bergabung menjadi anggota Muhammadiyah.

“Saya ceritakan pada waktu itu, bahwa saya sebagai pemuda telah ngintil-ngintil itu mengikuti, kepada Kiai Ahmad Dahlan. Karena ajaran-ajaran yang diberikan oleh Kiai Ahmad Dahlan itu betul-betul sesuai dengan alam pikiran saya, dan mengunggah di dalam kalbu dan roh saya satu keyakinan yang teguh kebenaran agama Islam,” demikian yang selalu dikatakan Bung Karno dalam berbagai acara Muhammadiyah.

Bung Karno kemudian resmi menjadi anggota Muhammadiyah pada tahun 1938, saat itu Bung Karno berada di pengasingan atau masa pembuangan di Bengkulu. Cerita tentang keanggota Muhammadiyah ini diceritakan sendiri oleh Bung Karno pada saat peringatan 50 tahun Muhammadiyah, 26 November 1962.

“Sekali Muhammadiyah tetap Muhammadiyah. Kata-kata ini bukan untuk Muhammadiyah saja, tapi juga untuk saya. Saya harap kalau dibaca lagi nama-nama anggota Muhammadiyah yang 175.000 orang banyaknya, nama saya masih tercantum di dalamnya. Saya harap nama saya tidak dicoret dari daftar keanggotaan Muhammadiyah.”

Pertautan antara Bung Karno dan Muhammadiyah semakin erat ketika Bung Karno menjadi pengurus Muhammadiyah Bengkulu dan bahkan mempersunting Fatmawati, putri seorang tokoh Muhammadiyah Bengkulu.

Fatmawati merupakan anak dari Hasan Din dan Siti Chadijah. Hasan Din merupakan pengusaha sekaligus tokoh Muhammadiyah. Sebagaimana diceritakan Muhammadiyah di situs resminya, pwmu.co, Hasan Din langsung mendatangi rumah tempat Bung Karno tinggi di Bengkulu setelah mendengar tokoh nasional itu menjadi anggota Muhammadiyah.

Hasan Din mengajak Bung Karno yang berpendidikan tinggi ini supaya mau mengajar di sekolah Muhammadiyah di Bengkulu. Dan Bung Karno saat itu menganggap bahwa ini adalah kehormatan. Pertemuan itu juga diceritakan sendiri oleh Bung Karno ke Cindy Adams yang kemudian dimuat dalam Buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

“Ketua Muhammadiyah setempat, Pak Hasan Din, datang di suatu pagi tanpa memberi tahu lebih dulu, suatu hal yang biasa di kalangan kami,” cerita Bung Karno.

kemudian menempatkan Bung Karno sebagai ketua Majelis Pendidikan dan Pengajaran. Bung Karno kemudian menjadi guru sekolah Muhammadiyah. Selain pelajaran agama, Bung Karno juga dititipkan pesan agar memberikan pelajaran tentang politik.

Dapat dikatakan persinggungan Bung Karno dengan Muhammadiyah ini menyentuh banyak aspek kehidupannya. Ia mempelajari semangat Islam yang anti kejumuddan dari Muhammadiyah. Dalam perjuangan, Bung Karno juga banyak berdampingan dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah. Dan satu hal lagi yang tak bisa dikesampingkan, ia mengenal Fatmawati setelah berkenalan dengan Hasan Din yang juga ayah Fatmawati. Bung Karno kemudian mempersunting perempuan Bengkulu itu dari Fatmawati itulah, lahir para keturunan Bung Karno.

Tidak heran, interaksinya yang panjang dengan Muhamadiyah itu membuat Bung Karno sangat mencintai organisasi ini. saking cintanya Bung Karno pada Muhammadiyah, ia pernah menyatakan ingin membawa bendera Muhammadiyah ke liang kubur.

“Moga-moga saya diberi umur panjang oleh Allah Subhanahu wa Taala, dan jikalau saya meninggal, supaya saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saja,” ujar Bung Karno saat berpidato di depan warga Muhammadiyah pada 1962.

_Artikel ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid._

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here