Pohon Soekarno di Padang Arafah

0
206

Presiden Soekarno dalam kunjungannya ke Arab Saudi pada tahun 1955 yang sekaligus dalam rangka menunaikan ibadah haji, meninggalkan jejak fenomenal yang bisa dirasakan hingga kini. Selain mengusulkan jalus sa’i menjadi dua jalur yang diwujudkan oleh Pemerintah Arab Saudi, ada jejak lain yang sampai saat ini masih bisa dilihat, yaitu Pohon Soekarno. Saat itu, Soekarno mengusulkan penanaman pohon agar Padang Arafah, tempat wukuf pada puncak pelaksanaan ibadah haji tanggal 9 Dzulhijjah, tidak terlihat terlalu gersang. Maklum, suhu di Arab Saudi sangat tinggi, bahkan bisa mencapati 42 derajat celcius saat musim panas. Pohon yang diusulkan Bung Karno untuk ditanam di Padang Arafah tersebut adalah pohon Mindi dan pohon Mimba. Pohon tersebut dipilih karena merupakan jenis yang cepat tumbuh (fast growing species). Pohon ini juga agak tahan akan kekeringan, sehingga cocok untuk ditanam di Arab Saudi. Pohon itu kemudian terkenal dengan sebutan Pohon Karno atau Syajaroh Karno, mengacu pada nama sang penyumbang yakni Presiden Soekarno.

Cerita mengenai usulan-usulan Presiden Soekarno kepada Raja Saud bin Abdulaziz, saat kunjungan ke Arab Saudi sekaligus menunaikan ibadah haji setidaknya bisa ditemukan di buku Biografi KH Zainul Arifin: Berdzikir Menyiasati Angin, yang ditulis Ario Helmy, dan juga buku Mangil Martowidjojo Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967. KH Zainul Arifin dan Mangil adalah orang yang ikut serta dalam rombongan Presiden Soekarno ke Arab Saudi kala itu. Posisi KH Zainul adalah sebagai Wakil Perdana Menteri Kabinet Ali-Arifin (1953-1955), dan Mangil adalah Komandan Polisi pengawal pribadi presiden.

Sementara cerita lebih detail mengenai Pohon Soekarno terungkap belakangan. Ceritanya, pada saat di Mekkah Bung Karno memang menawarkan bibit pohon ke Pemerintah Arab untuk dijadikan peneduh. Tawaran tersebut mendapat sambutan positif dari Raja Saud. Tak diketahui tahun pastinya, tetapi pada awal 1960-an program penghijauan di Saudi mulai dilakukan, yakni dengan memanfaatkan bibit mindi dan mimba sumbangan Soekarno.

“Pemerintah Arab Saudi memanfaatkan betul bibit mimba dan mindi yang disumbangkan oleh Pak Karno pada akhir 1950-an. Sekarang, dua jenis pohon itu menjadi peneduh utama di Saudi,” kata Kol (TNI) Abu Harist, yang pernah menjadi Kepala Operasional Arafah-Muzdalifah-Mina (Armina) Misi Haji Indonesia di Arab Saudi, sebagaimana dikutip di laman kemenag.go.id.

Dan sekarang buktinya, kawasan Padang Arafah tempat jamaah haji melaksanakan wukuf sudah amat hijau. Ribuan pohon mindi dan mimba bertinggi sekitar 7-10 meter tumbuh subur. Bahkan banyak celetukan bahwa Arafah kini tak pantas lagi jika disebut padang, karena ceruk kecil yang diapit pegunungan batu itu lebih tepat disebut sebagai Taman Arafah karena saking hijaunya dibanding kawasan padang pasir di sekitarnya.

“Ide Pak Karno memang berawal dari saat wukuf di Arafah. Ketika naik haji itu, beliau merasakan Arafah sangat terik. Padahal tiap tahun jutaan Muslim berkumpul di situ. Dengan suhu rata-rata 40 derajat celcius, tiadanya pohon peneduh jelas sebuah masalah,” tambah Abu Harist.

Dan belakangan, ingatan mengenai hubungan baik Indonesia dan Arab Saudi, terutama hubungan antara Presiden Soekarno dan Raja Saud kala itu kembali menjadi perbincangan hangat ketika Raja Salman bin Abdulaziz berkunjung ke Indonesia pada Maret 2017 lalu. Saat berlangsung pertemuan Raja Salman dan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Rabu (1/3/2017), Raja Salman mencari tahu keberadaan cucu dari Presiden Soekarno.

“Saat baru tiba dan disambut Presiden Jokowi, Raja Salman menanyakan keberadaan Cucu Sukarno. “Mana cucu Sukarno?” tanya Raja Salman ke Presiden Jokowi, seperti yang dituturkan oleh Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin.

Presiden Jokowi lantas memanggil Puan, yang menjabat Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), dan ikut dalam rombongan penyambutan Raja Salman di Istana Bogor. Rupanya, saat kunjungan Soekarno tahun 1955 ia ikut mendampingi Raja Saud bin Abdulaziz untuk menyambut Soekarno.

Dan saat berbicara dengan Puan, Raja Salman mengungkapkan kenangannya soal Bung Karno.

“Saya ingat sekali dengan Presiden Soekarno, selalu mengatakan ‘saudara-saudara’. Ini yang saya ingat, di sini,” kata Raja Salman.

_Artikel ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid._

SHARE
Previous articleBung Karno & Masjid Salman ITB
Next articleBung Karno & Ayat Suci di Sidang PBB
Rahmat Sahid | #wongkebumen
Rahmat Sahid lahir di Kebumen. Selepas lulus SD tahun 1994, ia melanjutkan sekolah di MTs KHR Ilyas, sekaligus ngaji di Ponpes Maqomul Muttaqin Tambakrejo, Buluspesantren, Kebumen, yang diasuh almarhum KH Raden Mabarun. Tahun 1997, tamat dari MTs, anak kedua dari Bapak M. Nasiruddin dan Ibu Tumirah ini meneruskan ke MA Salafiyah, Wonoyoso, Kebumen, hingga tahun 2000. Di tahun yang sama, ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, menimba ilmu di UIN Syarif Hidayatullah Ciputat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here