Bung Karno & Ayat Suci di Sidang PBB

0
177

Presiden Soekarno saat menyampaikan pidato pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merasa tertekan oleh suatu rasa tanggung-jawab yang besar. Ia pun merasa rendah hati berbicara dihadapan rapat agung daripada negarawan-negarawan yang bijaksana dan berpengalaman dari Timur dan Barat, dari Utara dan dari Selatan, dari bangsa-bangsa tua dan dari bangsa-bangsa muda dan dari bangsa-bangsa yang baru bangkit kembali dari tidur yang lama.

Mengawali pidatonya, Bung Karno mengatakan bahwa ia telah memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar lidahnya dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menyatakan perasaan hatinya, dan ia juga telah berdoa agar kata-kata tersebut akan bergema dalam hati sanubari mereka yang mendengarnya.

Bukan Bung Karno namanya jika tidak membuat mata dunia melihat kepadanya. Salah satu momen itu terlihat saat Presiden Soekarno dalam pidato berjudul To Build the World Anew (Membangun Tatanan Dunia yang Baru), mengutip ayat suci Alquran:

“Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia di antara kamu sekalian, ialah yang lebih taqwa kepadaKu”.

Ayat yang dikutip Bung Karno itu adalah surat Al-Hujarat, tepatnya di ayat ke-13 yang, yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
“Kitab Suci Islam mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Quran berkata: “Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia di antara kamu sekalian, ialah yang lebih taqwa kepadaKu”.

“Dan juga Kitab Injil agama Nasrani beramanat pada kita. “Segala kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi, dan sejahtera di atas bumi di antara orang yang diperkenanNya”.

Ren Muhammad, dalam artikelnya di Kompas.com dengan judul Indonesia Menggugat Dunia menceritakan, pidato Bung Karno itu menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin kaliber dunia.

“Ia masih tampak gagah, berkacamata, berpeci hitam, dengan setelan jas dan celana pantalon putih, lengkap dengan jam merk Rolex melingkar di pergelangan tangan kanannya, saat naik ke podium paling terhormat sedunia pada Jumat, 30 September 1960,”

“Di hadapan para pembesar negara-bangsa yang hadir di gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam Sidang Umum ke-XV itu, ia menyampaikan pidato sepanjang 47 halaman, berjudul “To Build the World Anew” (Membangun Tatanan Dunia Baru). Pidato itu sarat tenaga perlawanan. Perwakilan dari suara jutaan manusia tertindas dari negerinya, bangsa Asia, dan juga Afrika. Pidato yang tak bertele-tele dan langsung menusuk jantung peradaban dunia pada paragraf keempatnya. Mata para hadirin yang sebagian besar adalah presiden dari negara Eropa dan tentu Amerika, sontak kena colok oleh kobaran semangat yang ia gelorakan. Saat itu, bahkan hingga kini, belum pernah ada lagi singa podium yang sanggup memaksa para penentu dunia mendengar suaranya yang menggelegar, dan meminta mereka melaksanakan manifesto yang ia bacakan. Ia seolah mengejawantah jadi pemimpin dunia sesungguhnya,” demikian ditulis Ren Muhammad.

Kembali ke pidato Bung Karno-, saat itu Putra Sang Fajar menyampaikan,
“Kami tidak berusaha mempertahankan dunia yang kami kenal, kami berusaha membangun suatu dunia yang baru, yang lebih baik. Kami berusaha membangun suatu dunia yang sehat dan aman. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana setiap orang dapat hidup dalam suasana damai. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana terdapat keadilan dan kemakmuran untuk semua orang. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana kemanusiaan dapat mencapai kejayaan yang penuh,”.
Dalam kesempatan pidatonya, Bung Karno juga mengatakan, tidak benar bahwa telah dikatakan bahwa kita hidup di tengah-tengah suatu revolusi harapan yang meningkat. Ini tidak benar!

“Kita hidup di tengah-tengah revolusi tuntunan yang meningkat. Mereka yang dahulunya tanpa kemerdekaan, kini menuntut kemerdekaan. Mereka yang dahulunya tanpa suara, kini menuntut agar suaranya didengar. Mereka yang dahulunya kelaparan kini menuntut beras, banyak-banyak dan setiap hari,”.

Sebelum mengakhiri pidatonya, atas nama Delegasi-Delegasi Ghana, India, Republik Persatuan Arab, Yugoslavia dan Indonesia, menyampaikan resolusi pada majelis umum PBB yang isinya sebagai berikut:

“MERASA SANGAT CEMAS berkenaan dengan memburuknya hubungan-hubungan internasional akhir-akhir ini, yang mengancam dunia dengan konsekuensi-konsekuensi berat; “MENYADARI harapan besar dari dunia ini bahwa Majelis ini akan membantu dalam menolong mempersiapkan jalan kearah keredaan ketegangan dunia;

“MENYADARI tanggung jawab yang berat dan mendesak yang terletak di atas bahu Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk mengambil inisiatif dalam usaha-usaha yang dapat membantu; “Minta sebagai langkah pertama yang mendesak, agar Presiden Amerika Seríkat dan Ketua Dewan Menteri Republik-Republik Sovyet Sosialis memulai kembali kontak-kontak mereka yang telah terputus baru-baru ini, sehingga kesediaan yang telah mereka nyatakan untuk mencari dengan perundingan-perundingan pemecahan masalah-masalah yang terkatung-katung dapat dilaksanakan secara progresif”.

Kemudian, Bung Karno menyampaikan kepada pimpinan majelis sidang PBB agar kiranya diperkenankan sekaligus memohon, atas nama Delegasi-Delegasi kelima negara tersebut di atas, supaya resolusi ini mendapat pertimbangan yang segera.

“Saya sampaikan Rancangan Resolusi ini atas nama kelima Delegasi itu dan atas nama jutaan rakyat yang hidup di negara-negara itu. Menerima Resolusi ini merupakan suatu langkah yang mungkin dan langsung dapat diselenggarakan,” Maka, kata Bung karno, hendaknya Majelis Umum PBB menerima Resolusi ini secepat-cepatnya. Bung karno mengajak agar mengambil langkah praktis itu kearah peredaan ketegangan dunia yang membahayakan. Sehingga penting untuk menerima Resolusi tersebut dengan suara bulat, sehingga segenap tekanan dari kepentingan dunia dapat dirasakan.

“Marilah kita mengambil langkah pertama ini, dan marilah kita bertekad untuk melanjutkan kegiatan dan desakan kita sampai tercapainya dunia yang lebih baik dan lebih aman seperti yang kita bayangkan,”.

“Ingatlah apa yang telah terjadi sebelumnya. Ingatlah akan perjuangan dan pengorbanan yang dialami oleh kami, anggota-anggota baru dari Organisasi ini. Ingatlah bahwa usaha keras kita telah disebabkan dan diperpanjang oleh penolakan dasar-dasar Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami bertekad agar hal ini tidak akan terjadi lagi,”.

Bangunlah dunia ini kembali! Bangunlah dunia ini kokoh dan kuat dan sehat! Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam dunia damai dan persaudaraan. Bangunlah dunia yang sesuai dengan impian dan cita-cita ummat manusia. Putuskan sekarang hubungan dengan masa lampau, karena fajar sedang menyingsing. Putuskan sekarang hubungan dengan masa-lampau, sehingga kita bisa mempertanggung jawabkan diri terhadap masa depan.

“Saya memanjatkan doa hendaknya Yang Maha Kuasa memberi Rahmat dan Bimbingan kepada permusyawaratan Majelis ini,” demikian penutupan pidato Bung Karno yang disampaikan di Sidang Umum PBB kala itu.

_Artikel ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid._

SHARE
Previous articlePohon Soekarno di Padang Arafah
Next articleBung Karno & KH Hasyim Asyari
Rahmat Sahid | #wongkebumen
Rahmat Sahid lahir di Kebumen. Selepas lulus SD tahun 1994, ia melanjutkan sekolah di MTs KHR Ilyas, sekaligus ngaji di Ponpes Maqomul Muttaqin Tambakrejo, Buluspesantren, Kebumen, yang diasuh almarhum KH Raden Mabarun. Tahun 1997, tamat dari MTs, anak kedua dari Bapak M. Nasiruddin dan Ibu Tumirah ini meneruskan ke MA Salafiyah, Wonoyoso, Kebumen, hingga tahun 2000. Di tahun yang sama, ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, menimba ilmu di UIN Syarif Hidayatullah Ciputat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here