Bung Karno & KH Hasyim Asyari

0
581

KH Hasyim Asyari mempunyai tempat tersendiri di hati Bung Karno. Jasa pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini sudah tidak perlu lagi diragukan untuk bangsa ini. Ia berjuang di semua lini.

Nah, diantara jasa kakek Gus Dur ini adalah yang terkait dengan hari Proklamasi atau Kemderdekaan Indonesia. Ceritanya, pada 8 Agustus 1945, atau di awal Bulan Ramadhan tahun itu, Bung Kaarno mengirim beberapa utusan untuk menemui Kiai Hasyim diantaranya untuk menanyakan hasil istikharah para ulama tentang hari baik untuk memproklamirkan kemerdekaan. Jadi, pemilihan tanggal itu tidak hanya “ujug-ujug” atau kebetulan dalam memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini. Karena faktanya selain desakan dari pemuda yang tidak ingin mendapatkan kemerdakaan “sekedar hadiah” dari penjajah,-seperti diceritakan dalam dalog antara Sukarni dan Bung Karno dalam buku ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ yang ditulis Cindy Adams, penentuan tanggal 17 Agustus 1945 yang bertepatan hari Jumat tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriah itu juga hasil istikharah para ulama yang salah satunya satunya pendiri NU Kiai Hasyim Asy’ari.

Sebagaimana ditulis dalam buku Penakluk Badai: Biografi KH Hasyim Asy’ari, karya Aguk Irawan MN. Soekarno memang sejak awal sudah berdiskusi dengn Kiai Hasyim mengenai hari kemerdekaan. Pada awal bulan Ramadahan, 8 Agustus 1945, Soekarno mengirim beberapa utusan untuk menemui Kiai Hasyim. Utusan itu diberi mandat menanyakan hasil istikharah para ulama mengenai hari baik untuk memproklamirkan kemerdekaan.

Dipilihnya hari dan tanggal tersebut dengan pertimbangan hari Jumat adalah sayyidul ayyam atau ibunnya para hari. Dalam Islam hari Jumat dianggap sebagai hari utama yang penuh berkah. Selain hari Jumat, bulan Ramadhan juga memberi keistimewaan tersendiri. Bulan Ramadhan disebut sebagai sayyidus syuhur atau bulan yang paling utama dari bulan-bulan lain.

“Dipilihlah hari Jumat (sayyidul ayyam) tanggal 9 Ramadhan (sayyidus syuhur) 1364 H tepat 17 Agustus 1945, dan lihatlah apa yang dilakukan Bung Karno dan ribuan orang di lapangan saat itu, dalam keadaan puasa semua berdoa dengan menengadahkan tangan ke langit untuk keberkahan negeri ini,” demikian ditulis Aguk Irawan MN dalam bukunya.

Selain soal hari kemerdekaan, Bung Karno juga secara khusus meminta masukan dan fatwa dari KH Hasyim Asy’ari mengenai situasi politik terkait kedatangan Pasukan Sekutu dibawa Komando Inggris, yang membawa serta penjajah Belanda, pada September 1945.

A Khoirul Anam, dalam tulisannya: Setelah Presiden Soekarno Meminta Fatwa KH Hasyim Asy’ari, menjelaskan, saat-saat itu memang mengkhawatirkan, dimana Belanda dan Sekutunya hampir mendekati Surabaya. Mereka dengan persenjataan lengkap ingin kembali menduduki tanah jajahan. Oleh karena itu, Presiden Soekarno yang ada di Jakarta segera mengirim utusan untuk menghadap Rais Akbar NU Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Menurut penjelasaan A. Khoirul Anam, Bung Karno memang dikenal baik oleh Mbah Hasyim, karena sempat nyantri, minta amalan, dan berpuasa selama empat puluh hari di Pondok Pesantren Tebuireng. Karenanya, ketika menghadapi situasi yang menegangkan itu Bung Karno melalui utusannya hendak menanyakan kepada Mbah Hasyim perihal: “Apakah hukumnya membela tanah air? bukan membela Allah, membela Islam atau membela al-Qur’an. Sekali lagi, membela tanah air?”

Berdasarkan pertanyaan Bung Karno itu, Mbah Hasyim telah mengerti maksudnya, yakni bermaksud meminta tolong kepada Mbah Hasyim dan warga pesantren untuk tidak segan-segan bertempur melawan para penjajah yang ingin kembali berkuasa.

Oleh karena itu, setelah menerima utusan Bung Karno, Mbah Hasyim langsung memanggil Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syamsuri dan para kiai lainnya lainnya untuk mengumpulkan para kiai se-Jawa dan Madura atau utusan cabang NU-nya untuk berkumpul di Surabaya. Tepatnya di kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) di Jl. Bubutan VI/2.

Namun, jelas Anam, pada 21 Oktober para kiai baru dapat berkumpul semua. Dan Mbah Hasyim meminta para kiai lainnya menunggu beberapa kiai terkemuka yang datang dari Jawa Barat seperti Kiai Abbas Buntet, Kiai Satori Arjawinangun, Kiai Amin Babagan Ciwaringin, dan Kiai Suja’i Indramayu. Waktu itu, dijelaskan Anam, perjalanan ke Surabaya mengandalkan jasa kereta api, yang masih sangat sederhana. Setelah semua kiai berkumpul, lanjut Anam, segera diadakan rapat darurat yang dipimpin oleh Kiai Wahab Chasbullah.

“Pada 22 Oktober Mbah Hasyim atas nama Pengurus Besar organisasi NU mendeklarasikan sebuah seruan jihad fi sabilillah yang belakangan terkenal dengan istilah Resolusi Jihad,” demikian tulis A Khoirul Anam.

_Artikel ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid._

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here