Bung Karno & Masjid PERSIS Bandung

0
99

Bandung meninggalkan banyak kenangan bagi Bung Karno. Di kota ini, dia pernah kuliah dan mulai membangun gerakan kebangsaan. Di sini juga ia pernah dipenjara. Juga ada sepenggal kisah asmara dengan Inggit Garnasih.
Tidak heran jika sejumlah bangunan memiliki sejarah bagi Bung Karno di Bandung. Diantaranya adalah Masjid Persis (Pesantren Persatuan Islam) yang terletak Jl. Perintis Kemerdekaan.
Ini merupakan masjid yang dirancang sendiri oleh Bung Karno. The Sukarno Center Bali pun mengakuinya. Hal ini terlihat dari sebuah piagam “The President Sukarno Heritage List” yang dikeluarkan lembaga yang menyebutkan Masjid Persis adalah salah satu warisan Bung Karno.
Masjid yang didirikan pada 1935 ini termasuk masjid tertua di Bandung. Soekarno mendirikan masjid ini karena terispirasi dari Pemimpin Sarekat Islam, Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, yang tak lain adalah guru Bung karno. Ia ingin masjid ini bisa menuruskan perjuangan sang guru yang melahirkan banyak tokoh pendiri bangsa tersebut.
Memang saat masih berumus 15 tahun, Soekarno tinggal di rumah Tjokroaminoto sambil melanjutkan pendidikannya di Hoogere Burger Islam, Surabaya. Bersama tokoh tersebut, ia banyak belajar mengenai politik dan Agama Islam.
Masjid ini pernah mengalami renovasi besar-besaran pada 1955, namun juga tidak mengubah menara masjid. Menara itulah warisan Bung Karno untuk masjid ini.
Masjid Persis juga pernah direnovasi pada 1977, karena sudah tidak menampung banyaknya jemaah yang datang beribadah. Renovasi itu pun tidak mengubah menara masjid yang memang sudah menjadi cirinya dan warisan Bung Karno tersebut.

_Artikel ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid._

SHARE
Previous articleLegitimasi Al Khairaat Kepada Bung Karno & NKRI
Next articleBung Karno Menyelamatkan Kampus Al-Azhar
Rahmat Sahid | #wongkebumen
Rahmat Sahid lahir di Kebumen. Selepas lulus SD tahun 1994, ia melanjutkan sekolah di MTs KHR Ilyas, sekaligus ngaji di Ponpes Maqomul Muttaqin Tambakrejo, Buluspesantren, Kebumen, yang diasuh almarhum KH Raden Mabarun. Tahun 1997, tamat dari MTs, anak kedua dari Bapak M. Nasiruddin dan Ibu Tumirah ini meneruskan ke MA Salafiyah, Wonoyoso, Kebumen, hingga tahun 2000. Di tahun yang sama, ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, menimba ilmu di UIN Syarif Hidayatullah Ciputat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here