Bung Karno, Diabadikan Sebagai Nama Jalan di Maroko

0
117

Nama besar Presiden Soekarno begitu harum di Negara Maroko. Nama presiden pertama Indonesia tersebut sangat dikenang oleh masyarakat di sana karena bermula dari dukungan Indonesia untuk kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA) di tahun 1955, yang kemudian menjadi spirit kemerdekaan Maroko. Tepat setahun setelah KAA digelar, yakni 2 Maret 1956, Maroko meraih kemerdekaannya. Indonesia menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Maroko dengan membuka kantor kedutaan besar di Rabat, Ibukota Maroko.

Kemudian, pada 2 Mei 1960 Soekarno berkunjung ke Maroko sebagai bentuk ucapan selamat Indonesia atas kemerdekaan Maroko dari jajahan Prancis. Kehadiran Presiden pertama RI kala itu ternyata mendapat sambutan yang luar biasa dari Raja Mohammed V dan rakyat Maroko. Raja Maroko menganggap Soekarno sebagai tokoh yang berperan penting dalam kemerdekaan negaranya. Bahkan Indonesia merupakan negara pertama yang mengakui kedaulatan Negeri Magribi itu.

Untuk mengenang jasa Presiden Soekarno, pemerintah Maroko mengabadikan nama Soekarno menjadi nama salah satu jalan di Kota Rabat yang dikenal dengan nama Rue Soukarno. Jalan ini kini menjadi destinasi tersendiri bagi wisatawan asal Indonesia di Maroko, baik hanya untuk sekedar melintas atau untuk ber-selfie.

Dalam buku Untaian Cerita dari Al Maghribi karya Arita Agustina Benyamin-Med HATTA disebutkan, Maroko merupakan Negeri Kerajaan al-Maghribi, satu-satunya Dinasti Islam, penerus keturunan nabi Muhammad SAW, yang masih bertahan di dunia hingga kini. Rajanya Mohamed VI bin al-Hassan bin Mohamed V, adalah seorang habib, keturunan langsung dari nasab al-Hassan bin Fatimah (isteri Sayyidina Ali bin Abu Thalib) binti Muhammad SAW.

Maroko, sebagaimana dijelaskan dalam buku tersebut, juga mempunyai sejarah panjang penyebaran Islam ke Benua Biru, karena merupakan batu loncatan pertama pelebaran dakwah Islam ke wilayah-wilayah Eropa. Diawali dengan invansi pasukan muslimin ke daratan Spanyol di bawah komando panglima legendaris Thariq bin Ziyad (asal Maroko), selanjutnya berhasil mendirikan sebuah imperium besar dan membangun kebudayaan Islam tersohor di bumi Andalusia, yang mampu bertahan selama lebih dari delapan abad.

“Selain itu, ternyata negeri terbenam matahari ini juga menyimpan sejarah hubungan emosional yang mendalam dengan negeri kita tercinta Indonesia, mulai dari kunjungan bersejarah ekspeditor dunia, sejarahwan dan ilmuan Islam terkenal Ibn Batouta ke Samudera Pasai (Aceh) pada abad pertengahan. Dilanjutkan dengan kunjungan-kunjungan persahabatan pemimpin kedua negara, Sultan Muhammad V dari Maroko mengadakan kunjungan kenegaraan pertama ke Indonesia tahun 1955, kemudian bersama Soekarno dan beberapa pemimpin negara lainnya mendeklarasikan berdirinya Persatuan Negara-Negara Non-Blok di Bandung,” demikian ditulis dalam sinopsis buku tersebut.

Presiden Soekarno pernah melakukan kunjungan pada tahun 1962 dan mendapat sambutan sangat meriah dari Raja dan Masyarakat Maroko, sehingga nama Soekarno di abadikan sebagai nama salah satu jalan protokoler di Ibukota Rabat. Bahkan, nama-nama seperti Indonesia, Jakarta, Bandung atau Bali juga banyak ditemui sebagai nama sebuah jalan atau toko di kota-kota besar Maroko seperti di Casablanca dan Marrakech.

Tiar Anwar Bachtiar (Ketua Umum PP Pemuda Persatuan Islam,Peserta Muktamar XII WAMY 28-31 Januari 2015 di Maroko), dalam tulisannya: Jejak Soekarno di Maroko yang dipublikasikan www.hidayatullah.com pada tanggal 9 Februari 2015 mengungkapkan, diabadikannya Putra Sang Fajar sebagai nama jalan utama di maroko, tentu peran Soekarno dan Indonesia cukup istimewa.

Menurut Tiar, bagi negara-negara di Afrika, nama Soekarno memang menjadi idola dan cukup disegani. Hal itu tak lepas dari keberhasilannya mengadakan perhelatan akbar Konferensi Asia Afrika di Bandung yang menjadi cikal bakal lahirnya Gerakan Non Blok (GNB) yang juga diketuai Soekarno. Gerakan ini merupakan gerakan besar dunia yang menandingi dua kekuatan dunia lain yang tengah bersaing dalam Perang Dingin, yaitu Blok Barat (Amerika) dan Blok Timur (Uni Soviet).

Keberanian Soekarno inilah, tulis Tiar, yang menginspirasi para pemimpin di Afrika Utara untuk memerdekakan diri dari penjajahnya masing-masing. Tahun 1956, Maroko berhasil memerdekakan negaranya dari Prancis. Dukungan kuat dari GNB menyebabkan kemerdekaan Maroko menjadi sangat berarti. Di sinilah peran Soekarno menjadi penentu. Selain itu, melalui Soekarno, Indonesia yang telah medapat pengakuan di PBB tujuh tahun sebelumnya menjadi negara pertama yang memberikan pengakuan pada Kemerdekaan Maroko.

“Pengakuan ini tentu manjadi kekuatan politik lain yang semakin memuluskan proses lepasnya Maroko dari Prancis. Oleh sebab itu, nama Soekarno dipandang layak dikenang oleh rakyat Maroko,”.

Sejak saat itu, hubungan Indonesia-Maroko menjadi semakin intensif. Bukan hanya terbuka hubungan politik, melainkan juga hubungan sosial, budaya, dan ekonomi. Hubungan sosial dan budaya yang nyata hingga kini adalah pengiriman pelajar Indonesia ke Maroko.

“Pemerintah Maroko memberikan kesempatan kepada banyak anak-anak muda Indonesia untuk menuntut ilmu di negerinya para ulama ini. Pemerintah Maroko tidak membebankan biaya pendidikan sama sekali kepada semua yang datang belajar di sini,” ungkap Tiar.

Di Negeri berpenduduk mayoritas Islam dan Negara penghasil arghan oil ini biaya pendidikan memang ditanggung sepenuhnya oleh kerajaan sejak TK hingga S3. Perhatian yang besar terhadap pendidikan ini pula yang menyebabkan negeri ini menjadi salah satu tempat yang kondusif untuk belajar. Hingga saat ini sudah ratusan mahasiswa Indonesia yang menyelesaikan kuliahnya sejak S1 hingga S3 di sini.

“Hingga saat ini, melalui Kementerian Agama RI, kesempatan berkuliah di Maroko tetap dibuka setiap tahun. Ini adalah kesempatan yang sangat baik yang dapat dimanfaatkan para pelajar Indonesia untuk semakin mematangkan ilmu di negara yang ulamanya banyak mengembangkan teori-teori maqâshid al-syarî‘ah,” demikian beber Tiar dalam tulisannya.

_Artikel ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid._

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here