Hasto: Kudatuli Rekayasa Politik Orba Bungkam Demokrasi

0
42

Wonosari-Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menghadiri pentas seni budaya peringatan peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli), di Telaga Jonge, Desa Pacarejo, Kecamatan, Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, Jumat (27/7).

Dalam peringatan tersebut, Hasto mengajak seluruh kader PDI Perjuangan dan masyarakat yang hadir untuk mengingat dengan mendalam peristiwa perebutan paksa kantor DPP PDI di Jl Diponegoro 58, Menteng, Jakarta Pusat, yang terjadi 22 tahun silam.

“Peristiwa tersebut merupakan skenario rekayasa politik Orde Baru untuk membungkam demokrasi arus bawah dengan kekerasan,” tegas Hasto di hadapan ribuan kader dan masyarakat yang memerahkan Telaga Jonge.

Hasto mengatakan, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri selalu berpesan untuk tidak menggunakan kekerasan di dalam menyikapi peristiwa kekerasan tersebut.

Sebagai pengingat, pada tahun 1993, Megawati lewat Kongres Surabaya terpilih menjadi Ketua Umum PDI hingga periode 1998. Namun, terpilihnya Megawati tak mendapat restu dari pemerintah Soeharto sehingga dibuatlah PDI tandingan.

Difasilitasi pemerintah Orde Baru, PDI tandingan menggelar kongres di Medan dan memilih Soerjadi sebagai ketua umum. Upaya massa PDI Soerjadi merebut kantor PDI Pro-Mega inilah yang memicu terjadinya peristiwa Kudatuli.

Dalam perjalanannya menghadapi Pemilu 1999, PDI Pro-Mega berubah nama menjadi PDI Perjuangan yang kemudian dideklarasikan pada 1 Februari 1999.

Hasto menambahkan, dalam Pemilu 1999 PDI Perjuangan mampu merebut mayoritas hati rakyat Indonesia yang rindu akan perubahan. Dalam kontestasi paling demokratis pasca-Orde Baru, PDI Perjuangan menang dengan 33 persen suara.

“Rakyat menghendaki PDI Perjuangan untuk menang,” pekik Hasto yang disambut gemuruh kader.

Hasto pun mengajak seluruh kader untuk mengetuk pintu masyarakat dalam rangka mendengarkan aspirasi untuk menjaga kepercayaan rakyat.

Sebelumnya, Ketua DPD PDI Perjuangan DIY Bambang Prastowo mengajak seluruh kader dan masyarakat yang hadir untuk mengheningkan cipta terhadap para korban peristiwa Kudatuli.

“Harus selalu diingat karena sangat penting bagi seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

Bambang pun mengucapkan terima kasih kepada DPC PDI Perjuangan Gunung Kidul yang telah menyelenggarakan pentas budaya ini dengan baik dan meriah.

Sebagai informasi, dalam peringatan Kudatuli ini ditampilkan beberapa kesenian tradisional antara lain reog, rampak buto, barongsai dan ragam kesenian lainnya.

SHARE
Previous articleSoekarno dan Langgar Merdeka Laweyan Solo
Next articleFatihah di Makam Salahuddin Al Ayyuby
Rahmat Sahid | #wongkebumen
Rahmat Sahid lahir di Kebumen. Selepas lulus SD tahun 1994, ia melanjutkan sekolah di MTs KHR Ilyas, sekaligus ngaji di Ponpes Maqomul Muttaqin Tambakrejo, Buluspesantren, Kebumen, yang diasuh almarhum KH Raden Mabarun. Tahun 1997, tamat dari MTs, anak kedua dari Bapak M. Nasiruddin dan Ibu Tumirah ini meneruskan ke MA Salafiyah, Wonoyoso, Kebumen, hingga tahun 2000. Di tahun yang sama, ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, menimba ilmu di UIN Syarif Hidayatullah Ciputat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here