Masjid Jamik Bengkulu dan Guratan Tangan Proklamator

0
114

Jika datang ke Bengkulu, tidak lengkap rasanya jika belum berkunjung ke Masjid Jami’ kota ini. Masjid yang terletak di Jalan Soeprapto, Kota Bengkulu ini memiliki nilai sejarah sendiri, karena merupakan masjid yang dirancang sendiri oleh Bung Karno, Presiden RI pertama.

Masjid ini pada awalnya dibangun di kelurahan Kampung Bajak, dekat dengan lokasi pemakaman Sentot Ali Basya, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro yang dibuang Belanda ke Bengkulu. Masjid ini sebenarnya sudah berdiri sebelum Bung Karno diasingkan ke Bengkulu pada 1934. Bahkan masjid sudah berdiri di abad ke-18.

Lokasi pada awal abad ke-19 kemudian dipindahkan Jalan Soeprapto, Kota Bengkulu. Pada masa pembuangan di Bengkulu itu, Bung Karno ikut merenovasinya dengan membuat rancangan bangunnya sendiri. Dapat dikatakan, bangunan Masjid Jami’ Bengkulu yang ada sekarang adalah hasil guratan tangan proklamator ini. Bung Karno memanfaatkan betul waktu pengasingannya itu untuk berkontribusi untuk Bengkulu. Ia misalnya mengajar di Sekolah Muhammadiyah Bengkulu. Sementara sebagai seorang insinyur sipil, ia berinisiatif untuk merenovasi masjid tua yang sudah bocor dan sering becek pada musim hujan kala itu. Biaya untuk renovasi dihimpun sendiri oleh masyarakat. Mereka juga bergotong royong mengambil material bangunan seperti pasir, batu dan lainnya dari desa Air Dingin, Rejang Lebong, Bengkulu Utara.

Bung Karno membuang semua bentuk lama masjid. Ada bagian yang dipertahankan yaitu dinding yang ditinggikan sekitar dua meter dan lantainya 30 cm. Bagian yang dirancang Bung Karno adalah bagian atap dan tiang masjid. Atap masjid berbentuk tiga lapis yang melambangkan Iman, Islam dan Ikhsan. Masjid ini juga dihiasi
dengan ukiran ayat al-Qur’an dan pahatan berbentuk sulur dengan cat warna kuning emas gading. Masjid dibagi menjadi tiga bagian yaitu ruang utama untuk sholat, serambi masjid dan tempat berwudhu. Di Bengkulu, Bung Karno tidak hanya membuat rancangan Masjid Jami, namun juga merancang empat rumah tinggal, tapi hanya dua diantaranya yang dibangun.

_Artiket ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid_

SHARE
Previous articleKisah Dibalik Nama Gelora Bung Karno
Next articleBung Karno, Jalinan Kuat Indonesia dan Pakistan
Rahmat Sahid | #wongkebumen
Rahmat Sahid lahir di Kebumen. Selepas lulus SD tahun 1994, ia melanjutkan sekolah di MTs KHR Ilyas, sekaligus ngaji di Ponpes Maqomul Muttaqin Tambakrejo, Buluspesantren, Kebumen, yang diasuh almarhum KH Raden Mabarun. Tahun 1997, tamat dari MTs, anak kedua dari Bapak M. Nasiruddin dan Ibu Tumirah ini meneruskan ke MA Salafiyah, Wonoyoso, Kebumen, hingga tahun 2000. Di tahun yang sama, ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, menimba ilmu di UIN Syarif Hidayatullah Ciputat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here