Bung Karno dan KH Wahab Hasbulllah (1)

1
197
Bung Karno dan KH Wahab Hasbullah

KH. Abdul Wahab Hasbulloh adalah salah satu pendiri Nahdhatul Ulama (NU) yang juga terlibat dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajahan. Sang kiai yang juga pencipta lagu Ya Lal Wathon itu dalam perjuangan pernah menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) ketika melawan penjajah Jepang. Ia juga seorang pencetus dasar-dasar kepemimpinan dalam organisasi NU dengan adanya dua badan, Syuriyah dan Tanfidziyah sebagai usaha pemersatu kalangan Tua dengan Muda.

Hubungan Kiai Wahab dengan Bung Karno, baik dalam perjuangan pra kemerdekaan hingga paska kemerdekaan begitu kuat. Dalam berbagai hal terkait kenegaraan dan hal-hal penting, Bung Karno sering berkonsultasi ke Kyai Wahab. Misalnya ketika Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia dengan membonceng kekuatan NICA atau sekutu. Saat itu, dalam menghadapi kekhawatiran kembalinya Belanda, Presiden Soekarno mengirim utusan untuk bertemu KH Hasyim Asyari, yang intinya meminta pendapat bagaimana hukumnya membela tanah air. Dalam merespon pertanyaan itu, Kiai Hasyim Asyari meminta Kiai Wahab untuk mengumpulkan para kiai berpengaruh se Jawa dan Madura, yang kemudian melahirkan fatwa Resolusi Jihad.

Dalam buku Biografi KH Hasyim Asy’ari, karya Lathiful Khuluq, disebutkan, Kiai Wahab yang oleh KH Hasyim Asyari ditugaskan memimpin implementasi fatwa Resolusi Jihad. Saat itu, fatwa Resolusi Jihad dikeluarkan Rois Akbar PBNU KH Hasyim Asyari, dalam pertemua ulama dan konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura, di kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) di Jalan Bubutan VI/2 Surabaya pada 22 Oktober 1945.

KH Wahab yang waktu itu menjadi Khatib Am PBNU bertugas mengawal implementasi dan pelaksanaan di lapangan. Fatwa Resolusi Jihad itulah yang akhirnya menjadi pemantik pertempuran heroik 10 November, untuk mengusir Belanda yang ingin kembali menjajah dengan cara membonceng NICA alias Sekutu.

Contoh lain bagaimana peran Kiai Wahab juga bisa dilihat dalam upaya Presiden Soekarno mengusir Belanda dari Irian Barat. Dalam buku Karya Intelektual Ra’is Akbar dan Ra’is ‘Aam Al Marhumien Pengurus Besar Nahdlatul Ulama karya A. Aziz Masyhuri diceritakan:

Setelah beberapa kali diadakan perundingan untuk menyelesaikan Irian Barat dan selalu gagal, Bung Karno meminta pendapat dengan sowan kepada Kyai Wahab Hasbullah di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Bung Karno menanyakan bagaimana hukum orang-orang Belanda yang masih bercokol di Irian Barat?

Kyai Wahab menjawab tegas, “Hukumnya sama dengan orang yang ghasab”.

“Apa artinya ghasab, kyai?” tanya bung Karno.

“Ghasab itu istihqaqu maa lil ghair bighairi idznihi. Artinya menguasai hak milik orang lain tanpa izin, “terang kyai Wahab.

“Lalu bagaimana solusi untuk menghadapi orang yang ghasab?”

“Adakan perdamaian,” tegas kyai Wahab.

Lalu Soekarno bertanya lagi, “Menurut insting kyai, apakah jika diadakan perundingan damai akan berhasil?”

“Tidak,”

“Lalu, kenapa kita tidak potong kompas saja, kyai?” bung Karno sedikit memancing.

“Tak boleh potong kompas dalam syariah,” kata kyai Wahab.

_Artiket ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid_

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here