Bung Karno Bantu Perjuangan Aljazair

0
162

Pada saat diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika di Bandung pada 1955, Aljazair masih dalam kondisi berperang melawan kolonial Prancis. Namun, sebagai bentuk dukungan Presiden Soekarno terhadap perjuangan kemerdekaan Aljazair, diundanglah delegasi Aljazair untuk ikut forum itu dengan harapan semakin termotivasi dalam perjuangannya. Dan benar saja, berkat forum internasional yang digagas Soekarno itulah, nama Aljazair pertama kali dikenal dunia internasional.

Hikmah dari itu adalah, pada 5 November 1962 para pejuang memproklamasikan kemerdekaan Aljazair.

Dalam proses perjuangan Aljazair, Bung Karno yang sudah melibatkannya dalam KTT Asia Afrika juga terus membantu Aljazair. Sebagaimana diceritakan Guruh Soekarnoputra dalam bukunya Bung Karno, Bapakku Kawanku, Guruku. Pada tahun 1957, Bung karno sengaja menyelundupkan senapan mesin kepada Front Nasional Pembebasan Aljazair sebagai perlengkapan persenjataan untuk melawan Prancis. Dalam proses penyelundupan, misi rahasia ini melibatkan dua kapal selam yang dipesan Indonesia dari Uni Soviet.

Seperti diketahui, pada 1949 hingga 1958, Uni Soviet memang memproduksi 236 kapal selam kelas Whiskey, yang 12 di antaranya dibuat untuk Indonesia.

Apa yang dilakukan Bung Karno itu sempat ditanyakan oleh Guntur, apakah tidak takut pada sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena melanggar hukum internasional dengan menyelundupkan senjata untuk membantu perjuangan kemerdekaan Aljazair. Atas pertanyaan itu, Bung Karno malah membalas dengan suara kentut yang besar!.

Bung Karno menyatakan, kalau PBB berani menghukumnya karena membantu negara lain lepas dari penjajahan, dia akan mengentutinya.

“Soal kemerdekaan, soal menghancurkan imperialisme, itu buatku nomor satu,” kata Bung Karno.

Bahkan, menurut Abdelhamid Mehri, pejuang Aljazair yang meninggal pada 30 Januari 2012, Sukarno tak cuma menyuplai senjata dari Moskow, tapi juga mengirimkan perwira-perwira TNI dari berbagai angkatan untuk melatih pejuang Aljazair.

Dalam menjalankan taktik dan strategi untuk membantu Aljazair, Soekarno tidak hanya nekad.

“Kita itu harus pakai otak,” demikian alasan Bung Karno mengirim senjata ke Aljazair.

Menurut Bung Karno, membantu Aljazair merdeka merupakan taktik diplomasi menikung buat merebut Irian Barat. Dalam kalkulasi Bung karno, menyerang langsung ke Papua hanya akan membuat Belanda diuntungkan dengan bantuan dari pasukan Sekutu, yang bermarkas di Samudra Pasifik. Apalagi jalan diplomatik pun mentok di PBB. Karenanya, Bung Karno dengan membantu Aljazair mengharapkan efek domino dari sukses pejuang Aljazair memukul Prancis. Dengan demikian, merdekanya Aljazair akan menambah daftar negara yang mendukung perjuangan melawan kolonialisme.

“Di sini beratnya perjuangan melawan kolonialisme,” ungkap Soekarno.

“Yang mau kita serang adalah Belanda di Irian Barat, tapi kita juga harus menggempur benteng-benteng mereka di semua tempat,” terangnya.

Duta Besar Aljazair untuk Indonesia, Abdelkrim Belarbi, pada November 2013 saat merayakan hari jadi Aljazair ke-59 mengungkapkan, sosok Soekarno yang juga dikenang sebagai pejuang kemerdekaan bangsa-bangsa dunia ketiga, termasuk Aljazair, dimana Soekarno lah yang menjembatani kemerdekaan Aljazair melalui Konferensi Asia-Afrika.

Menurut Belarbi, nama Soekarno sangat dikenal di seluruh Aljazair. Dan untuk menghormati jasa-jasa Bung Karno itu, Pemerintah Aljazair juga akan menggunakan nama Soekarno sebagai nama salah satu jalan.

Presiden Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri saat menyampaikan Pidato Kebudayaan pada Konferensi Internasional Arsip Gerakan Non Blok sebagai MOW Unesco, di Aljazair pada 23 Oktober 2016, atas undangan dari Presiden Aljazair, Abdelazis Bouteflika menyampaikan, kunjungannya itu tidak untuk membawa misi personal.

“Tetapi, untuk melanjutkan kembali relasi bilateral dua negara, Indonesia-Aljazair, yang pondasinya telah diletakkan oleh Bapak Bangsa Indonesia, Presiden Pertama Republik Indonesia, yang juga ayah saya, yaitu Dr. Ir. Soekarno, yang oleh  rakyat Indonesia dipanggil Bung Karno,” kata Megawati.

“Saya sangat tahu, bagaimana beliau dengan sekuat tenaga telah berjuang untuk kemerdekaan bangsa-bangsa di kawasan Asia dan Afrika dari imperialisme-kolonialisme. Pada tahun 1951, Bung Karno membentuk Panitia Pembantu Perjuangan Kemerdekaan Afrika Utara, khususnya Tunisia, Maroko dan Aljazair, yang berkantor di Jakarta. Pada Konferensi Asia-Afrika di Bandung, 18-24 April 1955, melalui undangan khusus dan rahasia (karena Aljazair masih di bawah koloni Perancis), delegasi Aljazair hadir dipimpin oleh Hussein Eit-Ahmed. Khusus untuk kemerdekaan Aljazair, Bung Karno bahkan memperjuangkannya di hadapan Sidang Umum PBB tahun 1960. Tanpa ragu, Bung Karno, “menuntut” kemerdekaan bagi Aljazair,” ungkap Megawati.

Dalam pidatonya, Megawati mengutip pidato Bung Karno tahun 1960 yang disampaikan di PBB:  “Sebelum meninggalkan persoalan-persoalan ini, saya hendak menyinggung pula suatu persoalan besar lain yang kira-kira sama sifatnya. Yang saya maksud ialah Aljazair. Di sini terdapat suatu gambaran yang menyedihkan, dimana kedua belah pihak sedang berlumuran darah dan dihancurkan karena ketiadaan penjelasan. Itu merupakan tragedi! Sudah jelas sekali bahwa rakyat Aljazair menghendaki kemerdekaan. Hal itu tidak dapat dibantah lagi. Andaikata tidak demikian, maka perjuangan yang lama dan pahit dan berdarah itu sudah bertahun-tahun berlalu. Kehausan akan kemerdekaan serta ketabahan untuk memperoleh kemerdekaan itu merupakan faktor-faktor pokok dalam situasi ini.”

Apa yang disampaikan oleh Bung Karno tersebut, kata Megawati, menunjukkan kemerdekaan Aljazair menempuh jalan perjuangan yang panjang.

“Saya bahkan sangat mengagumi perjuangan seorang pahlawan wanita Aljazair, pejuang revolusioner semasa Revolusi Aljazair, bernama Djamila Bouhired,” ungkap Megawati.

Megawati menyampaikan sekelumit sejarah itu bukan untuk mengklaim bahwa kemerdekaan Aljazair karena jerih payah Bung Karno. Tidak sama sekali. Kemerdekaan Aljazair, kata Megawati, adalah hasil perjuangan dan pengorbanan rakyat Aljazair. Megawati menceritakannya kembali untuk mengingatkan kita semua, bukan hanya rakyat Aljazair, tetapi juga rakyat Indonesia, bahwa hubungan dua negara, tidak boleh keluar dari semangat kemerdekaan tersebut.

“Kita akan melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa kita. Kita berjuang menjadikan perjuangan mereka sebagai memori dunia, memori yang menjadi landasan berpijak dalam semua relasi antar bangsa. Sebuah pondasi, pedoman, sekaligus arah kita sebagai warga dunia dalam bekerjasama. Seperti Bung Karno tegaskan dalam KTT Non Blok Pertama: “Politik Non-Blok adalah pembaktian kita secara aktif kepada perjuangan yang luhur untuk kemerdekaan, untuk perdamaian yang kekal, keadilan sosial dan kebebasan untuk Merdeka,” demikian disaampaikan Megawati di akhir pidatonya.

_Artiket ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid_

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here