Bung Karno, Gelar Pahlawan Islam dan Kemerdekaan

0
95

Preisden Soekarno meyakini bahwa rakyat Indonesia yang mayoritas Umat Islam pasti bahagia dengan digelarnya Konferensi Islam Asia Afrika. Bahkan, Negara-negara Islam di dunia yang mengikuti Konferensi Islam Asia-Afrika juga pasti bahagia karena hasil yang demikian gilang-gemilangnya.

Jika ada manusia-manusia yang tidak bahagia, maka jelaslah itu merupakan manusia-manusia nekolim, manusia-manusia imperialis, manusia-manusia penjajah, manusia-manusia penindas, manusia-manusia penghisap, manusia-manusia yang suka mengkungkung suatu bangsa. Bung Karno bahkan mengatakan mereka yang tidak bahagia dengan hasil Konferensi Islam Asia Afrika mereka sedang gemetar, ketakutan, oleh karena seluruh dunia Islam telah bangkit, bangkit menentang imperialis, kolonialisme, neokolonialisme.

Demikian disampaikan Presiden Bung Karno dalam amanatnya pada rapat umum penutupan Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 14 Maret 1965.

Bung Karno juga merasa bahagia bahwa yang datang dari tiga puluh lima negara yang berkumpul di Kota Bandung dalam pelaksanaan KIAA itu semuanya merasa di kalangan bangsa Indonesia ini seperti di kalangan saudara sendiri, bahwa mereka telah melihat tanah air Indonesia, melihat bangsa Indonesia, melihat rakyat Indonesia, melihat keindahan dan kecantikan Indonesia, melihat keramahtamahan bangsa Indonesia. Melihat semangat yang berkobar-kobar dari pada rakyat Indonesia. Dan yang membuat haru Bung Karno adalah karena KIAA secara resmi memberikan piagam Pahlawan Islam dan Kemerdekaan kepada Bung Karno yang dianggap berjasa dalam membangkitkan perjuangan Negara-negara Islam di Asia Afrika.

“Saya dengan merasa terharu dan mengucap terima kasih telah di gelari oleh Konferensi Islam Asia-Afrika ini dengan gelar sebagai tertulis disana dan sebagai tertulis di dalam piagam: pahlawan Islam dan kemerdekaan,” kata Bung Karno.

Seperti diketahui, Konferensi Islam Asia Afrika I yang diselenggarakan pada tanggal 6 – 14 Maret 1965 di Gedung Merdeka Bandung. Tujuan dari diselenggarakan konferensi ini adalah untuk menyatukan umat Islam di Asia dan Afrika, untuk melenyapkan penindasan di Asia dan Afrika, dalam rangka memelihara perdamaian internasional. Konferensi Islam Asia Afrika I ini didahului oleh Konferensi Pendahuluan yang diselenggarakan pada tanggal 6 – 14 Juni 1964 di Markas Besar Ganefo Senayan Jakarta.

Adapun Konferensi Pendahuluan Konferensi Islam Asia Afrika ini dihadiri oleh delapan negara, yaitu Indonesia sebagai penyelenggara, Iraq, Nigeria, Pakistan, Philipina, Arab Saudi, Thailand, dan Republik Persatuan Arab. Tujuan dari Konferensi Pendahuluan ini adalah untuk mempersiapkan penyelenggaraan Konferensi Islam Asia Afrika I.

Konferensi Islam Asia Afrika I dihadiri oleh 33 negara peserta dan empat negara peninjau. Konferensi ini membicarakan masalah-masalah yang dihadapi umat Islam di Asia dan Afrika khususnya dan di dunia pada umumnya, serta untuk menyatukan umat Islam di Asia dan Afrika. Konferensi Islam Asia Afrika I telah berhasil memberikan dasar pemikiran bagi kerja sama antar umat Islam dalam memperjuangkan kehidupan dunia yang penuh kedamaian, yaitu dengan dikeluarkannya Deklarasi Konferensi Islam Asia Afrika.

Kemudian penutupan KIAA digelar Rapat Akbar Umat Islam di Gelora Bung Karno Jakarta. Di situlah Presiden Soekarno menerima gelar kehormatan sebagai “Pahlawan Islam dan Kemerdekaan” yang diumumkan dalam Rapat Akbar KIAA.

Bung Karno memang mengucap banyak terima kasih dan merasa terharu atas penganugerahan gelar itu. Tetapi, Bung Karno juga menyampaikan bahwa sebenarnya ia merasa tidak pantas atau belum pantas mendapat gelar yang demikian itu.

Bung Karno mengungkapkan, terlepas dari banyaknya sebutan penghargaan atas apa yang dilakukan dalam perjuangannya ia merasa hanyalah Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jadi, kalaupun ia dianggap telah menyumbang barang sedikit kepada kebaikan Islam, menyumbang barang sedikit kepada kebangkitan Islam itu, ialah oleh karena Bung Karno merasa bahwa dirinya adalah hamba Allah SWT.

_Artiket ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid_

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here