Keluhan Bung Karno dan Masjid Taqwa Parapat

0
106

Di hampir semua tempat pembuangan Bung Karno oleh Belanda selalu saja ada hal penting yang ditinggalkan, bahkan tidak sedikit peninggalan itu berupa masjid. Seperti peninggalan di tempat pembuangan Bung Karno di Sumatera Utara, tepatnya di Parapat.

Sebagaimana ditulis dalam buku otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, pada akhir Desember 1949, tiga pemimpin Republik Indonesia, yakni Bung Karno, Sjahrir, dan Haji Agus Salim, di buang Sumatera Utara. Awalnya mereka ditempatkan di Brastagi. Namun tak lama, ketiganya kemudian dipindahkan ke Parapat, kelurahan di tepi teluk di Danau Toba, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Di Parapat ketiganya menempati rumah bekas tempat peristirahatan orang-orang Belanda.

Dalam masa pembuangan itu, Bung Karno mengeluhkan karena di kota tersebut belum ada masjid untuk melaksanakan Shalat Jumat. “Di sini belum ada masjid. Dirikanlah masjid untuk shalat orang-orang Islam yang singgah,” ujar Bung Karno.

Dari apa yang dikeluhkan Bung Karno itulah, kemudian di tempat itu dibangun masjid, yang kini dikenal masjid Taqwa Parapat. Masjid Taqwa Parapat bermula dari surau kecil karya putra Batak bernama H. Abdul Halim Pardede, yang berminat mendirikan sebuah surau agar ketika ada tamu dapat shalat dan beristirahat.

Pesan Bung Karno agar di daerah itu dibangun masjid menjadi semangat bagi Abdul Halim Pardede. Dia disebutkan mewakafkan tanahnya untuk dibangun masjid, yang terealisasi pada tahun 1952, dimana peletakan batu pertamanya dilakukan oleh menteri agama pada saat itu yakni KH Fakih Usman. Atas bantuan Presiden Soekarno, pembangunan masjid itu cepat selesai.

_Artikel ini diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid._

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here