Pak Taufiq, Dari Don Quixotte Hingga Pidato Bung Karno (1)

0
128

Taufiq Kiemas adalah salah satu tokoh politik senior yang dimiliki bangsa Indonesia. Bukan hanya senior dalam hal usia, tetapi juga dalam pengalaman karena Taufiq sudah pernah terlibat langsung sebagai pendukung kekuasaan saat Presiden Soekarno, lalu menjadi oposisi saat Presiden Soeharto, kembali menjadi penguasa saat istrinya Megawati Soekarnoputri menjabat Presiden ke-5 RI, hingga kemudian menjadi oposisi lagi dan saat ini menjabat sebagai Ketua MPR meskipun partainya yakni PDIP memosisikan sebagai oposisi.

Dalam buku yang ditulis Rustam F. Mandayun, Muhammad Yamin, Helmy Fauzy dan Imran Hasibuan; Jembatan Kebangsaan: Biografi Politik Taufiq Kiemas, dijelaskan panjang lebar bagaimana keterlibatan sosok yang berĀ­gelar Datuk Basa Batuah ini dalam kancah politik sejak masih remaja hingga saat ini.

Digambarkan, Taufiq yang dilahirkan di era pergolakan melawan penjajahan Jepang dan dibesarkan di saat agresi militer Belanda II membuatnya tumbuh menjadi anak yang berani dan berjiwa nasionalis. Apalagi, meski dibesarkan dalam keluarga Masyumi, Taufiq selalu disekolahkan di sekolah sekuler, tempat anak-anak dari berbagai latar belakang berkumpul sehingga memupuk jiwanya yang plural dan memahami betul apa arti kebhinnekaan. Saat bersekolah di Sekolah Menengah Atas II Palembang, Taufiq malah membentuk geng anak muda yang diberi nama Don Quixotte. Sesuai namanya yang mengambil tokoh utama novel klasik Miguel de Cervantes, mereka bercita-cita menaklukkan dunia. Tapi kegiatan utama gengnya tak jauh-jauh dari pesta dan hura-hura. Sampai suatu waktu, 19 Agustus 1960, Taufiq mendengarkan pidato Presiden Soekarno yang menyatakan secara resmi membubarkan Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia di hadapan pengurus dua partai itu.

Sejak itu, Taufiq malah penasaran dengan Soekarno dan pemikirannya. Buku-buku Bung Karno dilahapnya ketika masih duduk di bangku SMA. Tapi Taufiq hanya bisa mengagumi Soekarno diam-diam karena bapaknya sendiri adalah korban dari kesewenang-wenangan politik salah satu proklamator itu. Ketika Taufiq masuk Fakultas Hukum, kekagumannya pada Soekarno bertemu penyalurannya. Ketua perpeloncoan yang juga aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia yang berafiliasi ke Partai Nasional Indonesia, Djohan Hanafiah, mendengar cerita tentang Taufik yang populer dengan Geng Don Quixotte-nya. Tanpa pikir panjang lagi, Taufiq bergabung dengan GMNI. Misi Taufiq sederhana, ingin suatu saat bisa memimpin PNI dan dekat dengan Soekarno yang diidolakannya.

Sementara di rumah, Tjik Agus Kiemas yang mendengar anaknya, Taufiq Kiemas, masuk GMNI kaget dan sedih. Aktivis Masyumi itu sempat menangis sedih mengetahui Taufiq bergabung dengan GMNI. Sang ayah tak habis pikir, mengapa anaknya memilih masuk GMNI, bukan organisasi kemahasiswaan yang berasaskan Islam seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Namun, Tjik Agus akhirnya memakluminya dan hanya berpesan agar Taufiq siap dengan pilihannya itu. Hubungan ayah dan anak itu akhirnya membaik lagi.

_Artikel ini diambil dari buku Pak Taufiq dan Bu Mega – Catatan Ringan, Lucu, dan Unik dari Keluarga Politik – karya Rahmat Sahid._

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here